Jejak Adat dan Kebudayaan di Nagari Tanjung Bingkung
Suku dan Gelar Adat
Kehidupan adat di Tanjung Bingkung sangat terstruktur. Di nagari ini, terdapat 31 rumah gadang , dan masyarakatnya terbagi menjadi 11 suku: Caniago, Sikumbang, Melayu, Caniago Panyalai, Caniago Pinang Taba, Balai Mansiang, Kutianyie, Koto, Jambak, Piliang, dan Sumpadang. Sistem kekerabatan ini juga mencakup hubungan antar suku, di mana beberapa suku dianggap sebagai pecahan dari suku induknya, seperti Sumpadang yang merupakan pecahan dari Sikumbang , Kutianyie dari Jambak , dan Balai Mansiang dari Piliang.
Struktur adat dipimpin oleh para pemangku adat yang memiliki gelar khusus.Terdapat beragam gelar adat yang dipegang oleh pemangku adat, antara lain yaitu:
- IV Jinih: Mencakup gelar-gelar utama seperti Penghulu, Malin, Manti, dan Dubalang dari suku-suku besar seperti Caniago, Sikumbang, dan Melayu.
- Bajinih: Meliputi gelar Penghulu dan Malin dari suku-suku seperti Caniago Panyalai, Caniago Pinang Taba, Balai Mansiang, dan Kutianyie.
- Ninik Mamak: Gelar ini diperuntukkan bagi pemimpin adat di beberapa suku lainnya, termasuk Piliang dan Sumpadang.
Dalam sistem adat ini, terdapat istilah "dilipat" (atau "balipek") yang menunjukkan bahwa suatu gelar tidak terpakai. Terdapat total 7 gelar sako yang terpakai dan 5 gelar yang dilipat pada kategori IV Jinih , 4 gelar terpakai dan 3 dilipat pada Bajinih , serta 8 gelar terpakai dan 2 dilipat pada Ninik Mamak
Ragam Tradisi Adat dan Kebudayaan Lokal
Masyarakat Tanjung Bingkung merayakan berbagai peristiwa kehidupan melalui upacara adat yang khas, mulai dari kelahiran hingga kematian.
- Pernikahan (Baralek): Pernikahan diizinkan antar suku, tetapi dilarang dalam satu suku (kawin sasuku). Upacara perkawinan dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan skala helatnya: kecil (memotong ayam), menengah (memotong kambing), dan besar (memotong sapi/kerbau). Upacara ini selalu melibatkan pidato adat dari pihak "ujung" dan "pangka".
Gambar hanyalah ilustrasi
- Peristiwa Kelahiran: Tradisi juga mengiringi momen penting lain, seperti kelahiran anak. Ketika seorang anak lahir, terdapat upacara "batanam urieh". Anak laki-laki di-azankan oleh ayahnya, sedangkan anak perempuan di-qamatkan. Acara lain yang dilakukan adalah turun mandi yang disebut "cilok aie/mambadak," yang diiringi doa oleh seorang siak.
Gambar hanyalah ilustrasi
- Upacara Aqiqah dan Sunat Rasul: Untuk aqiqah, biasanya dilakukan pada hari ke-7 setelah kelahiran bayi. Pelaksanaan aqiqah diisi dengan pembacaan doa-doa dan ayat suci al-quran oleh seorang ustadz serta dilakukan pemotongan terhadap rambut bayi. Upacara aqiqah dilakukan dengan memotong kambing untuk helat kecil, dan memotong sapi untuk helat besar. Besar kecilnya helat disesuaikan dengan kemampuan keluarga. Sedangkan untuk sunat rasul, acara ini biasanya dihadiri oleh bako, diiringi zikir dan maramsaji, dan doa oleh seorang siak. Helat dari acara sunat rasul juga bisa besar atau kecil tergantung kemampuan keluarga.
Gambar hanyalah ilustrasi
- Pengangkatan Gelar (Batagak Gala): Upacara adat lainnya yang penting adalah "batagak gala" atau pengangkatan gelar adat. Pengangkatan gelar IV Jinih dn bajinih ditandai dengan pemotongan sapi. Khusus untuk gelar Imam Nagari, helatnya lebih besar, bahkan memerlukan penyembelihan kerbau. Dalam upacara ini, para pemangku adat mengenakan pakaian kebesaran dan payung kuning kebesaran atau bendera merah putih didirikan di halaman rumah.
Gambar hanyalah ilustrasi
- Kematian (Alek Kematian): Setelah kematian, masyarakat melakukan pengajian selama 3, 7, 40, dan 100 hari. Namun, seiring perkembangan zaman, saat ini hanya dilakukan pengajian hingga 7 hari dan 100 hari secara terpisah. Proses pemakaman juga diatur oleh adat, termasuk perundingan untuk menentukan tempat penguburan.
- Tolak Bala: Acara Tolak Bala biasanya dilaksanakan pada malam hari setelah shalat Isya di setiap jorong saat terjadi banyak tikus atau penyakit menular.
- Meminta Hujan: Masyarakat nagari biasanya melakukan salat minta hujan (istisqa) ketika dilanda kemarau yang cukup panjang sehingga mengakibatkan sawah dan air di nagari menjadi kering. Shalat minta hujan dilaksanakan bersama-sama biasanya di masjid atau di tanah lapang.
Gambar hanyalah ilustrasi
Kebudayaan Nagari Tanjung Bingkung juga tercermin dalam berbagai keseniannya. Beberapa pertunjukan hiburan yang masih dilestarikan antara lain randai, tari piring, pencak silat, saluang, dan talempong. Ada pula kesenian yang bersifat mendidik, seperti silat, selawat dulang, dan pidato adat. Meskipun beberapa kesenian seperti tari sewa, sepak rago, dan dikie rabana sudah tidak ada lagi, beberapa kesenian lain yang bersifat hiburan modern seperti sepak bola, voli, dan bulu tangkis masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.


Gambar hanyalah ilustrasi
Nagari Tanjung Bingkung juga memiliki beberapa situs bersejarah dan potensi wisata yang belum banyak tergarap. Beberapa situs peninggalan masa lalu yang disebutkan dalam Tingkok Nagari Tanjung Bingkung adalah "guguak sikumbang", "talago itiak," "batu sandaran," "lesung tembaga," dan "lubuak putih". Terdapat juga makam keramat ulama besar seperti Sheh Magdum (Angku Junguik), pendiri sekolah Mualimin dan Tarbiyah. Potensi wisata alam juga cukup menjanjikan, seperti Puncak Sigaran yang cocok untuk terbang layang, Tanak Bulan-bulan untuk arena motor cross, dan Air Batang Lembang untuk arena renang.
Nagari Tanjung Bingkung, dengan segala kerumitan adat dan kekayaan budayanya, adalah contoh nyata bagaimana sebuah komunitas mampu mempertahankan identitasnya di tengah arus modernisasi. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi saksi sejarah dan panduan bagi generasi penerus untuk terus menjaga warisan leluhur mereka.