Sejarah Nagari Tanjung Bingkung
Nagari Tanjung Bingkung adalah sebuah wilayah bersejarah yang secara administratif terletak di Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok. Nagari ini berbatasan langsung dengan Nagari Sumani/Koto Sani di sebelah utara, Kota Solok di sebelah selatan, Nagari Aripam/Ampang Kualo di sebelah timur, dan Pauh di Kota Padang di sebelah barat. Wilayahnya terbagi menjadi lima jorong, yaitu Koto Tuo, Pasar Jum’at, Lakuak, Durian, dan Sambuang.
Berada pada ketinggian 400 meter di atas permukaan laut, nagari ini memiliki luas sekitar 2 km² (3.000 Ha). Berdasarkan data, populasinya mencapai 3.573 jiwa, yang terdiri dari 1.720 laki-laki dan 1.853 perempuan, dengan total 1.406 Kepala Keluarga (KK). Sebagai bukti kekayaan adatnya, di nagari ini berdiri 31 rumah gadang yang menjadi milik dari 11 suku. Ikatan anak nagari di perantauan pun kuat, dengan organisasi yang berpusat di Palembang dan Jakarta.
Asal Usul Nama Nagari Tanjung Bingkung
Menurut cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut serta "alam takambang jadi guru", nama Tanjung Bingkung berasal dari istilah "Tanjung Berlingkung". Nama ini merujuk pada kondisi geografisnya yang berupa sebuah tanjung (daratan yang menjorok) yang dilingkungi oleh aliran sungai yang mengalir dari Solok menuju Sumani.
Namun, makna "Berlingkung" tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga filosofis dan adat. Tanjung Berlingkung adalah tempat di mana musyawarah para Ninik Mamak mencapai kata putus. Dikatakan bahwa jika perundingan di Lubuk Sikarah, Solok, belum menemukan titik temu, maka di Tanjung Berlingkung-lah keputusan akhir itu diambil, sebuah keputusan yang tak dapat diubah lagi, atau disebut juga “biang tabuak gantiang putuih, kato tak dapek di bilai lai”.
Secara historis, Tanjung Berlingkung juga merupakan bagian dari konfederasi Darek Tiga Belas Koto, yang meliputi: Singkarak jo Saning Baka, Kasiak jo Sumani, Badao Padang Belimbing, Cinakiak Jo Tanjung Berlingkung, Riripan kayu marunduak, Kumuah ketek jo Kumuah Gadang, Ulu imang jo Batuang guguak, Taluak jo Tanjung Paku, dan Tandikek Jo Padang Galundi. Pandangan lain dari niniak mamak juga menguatkan bahwa nama Tanjung Bingkung lahir karena lokasinya yang seakan "dibingkung" atau dilingkari oleh pegunungan Bukit Barisan.
Bukti Sejarah dan Warisan Leluhur
Jejak sejarah Nagari Tanjung Bingkung dapat ditemukan di beberapa lokasi. Salah satu yang paling penting bertempat di Padang Kumuah Katapiang, di mana terdapat Limo Sariang (Lima Saringan) dan Galundi Manjala. Di sinilah para ninik mamak dahulu duduk beralaskan daun galundi yang menjalar untuk berunding, menyaring lima prinsip atau falsafah hidup.
Hasil perundingan tersebut menghasilkan lima falsafah yang menjadi pedoman, yaitu:
- Kaateh tarambun jantan, kabawah takasiak bulan.
- Babaun bak ambacang.
- Basuriah bak sipasin.
- Tasiloloh jajak manurun.
- Tatukiak jajak mandaki.
Selain itu, terdapat pula peninggalan lain berupa guguak (gundukan tanah) dan situs bersejarah seperti Guguak Sikumbang, Talago Itiak, Batu Sandaran, Lesung Tembaga, Mato Aie, Parak Anak Kabau, Puncak Pisang Lidi, Batu Pipisan, dan Lubuak Putih.
Sejarah di Balik Nama Lima Jorong
Dari nagari besar ini, lahirlah lima jorong yang masing-masing memiliki ceritanya sendiri:
- Jorong Pasar Jumat: Namanya berasal dari sebuah pasar yang dahulunya sangat ramai dikunjungi dan biasanya diadakan setiap hari Jumat. Pasar ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Lokasi pasar lama tersebut kini menjadi tempat Kantor Wali Nagari berdiri. Pada masa reformasi, pasar ini dipindahkan ke Kota Solok dan menjadi bagian dari Pasar Serikat (Rakyat).
- Jorong Koto Tuo: Nama "Koto Tuo" berarti permukiman tua. Dinamakan Jorong Koto Tuo, karena pada jorong ini terdapat tempat tua atau tempat besar yang biasa digunakan sebagai tempat pemujaan atau ritual untuk meminta-minta.
- Jorong Sambuang: Sejarahnya berkaitan dengan kegiatan membuka lahan sawah baru (manaruko sawah). Dimana diceritakan, seorang niniak menyerahkan sebagian lahan kepada kemenakannya untuk "menyambung" atau meneruskan perluasan lahan sawah tersebut, dikarenakan dirinya tidak sanggup lagi untuk memperluas lahannya. Jadi dari kata "menyambung" inilah nama Jorong Sambuang berasal.
- Jorong Lakuak: Nama "Lakuak" diberikan berdasarkan topografinya yang terletak di sebuah cekungan atau "lekukan" jalan.
- Jorong Durian: Jorong ini dulunya terkenal karena memiliki pohon durian yang sangat besar dan berbuah lebat. Pohon ini menjadi tujuan utama masyarakat Tanjung Bingkung, yang akhirnya mengabadikan namanya menjadi nama jorong.
Sejarah Masjid Raya Tanjung Bingkung
Masjid Raya Tanjung Bingkung merupakan sebuah kebanggaan dari Nagari Tanjung Bingkung, Kabupaten Solok, yang kini tampil megah setelah melalui renovasi menyeluruh. Masjid ini berdiri sejak tahun 1928, masjid ini bukan hanya digunakan sebagai tempat ibadah, melainkan sebuah monumen hidup yang merekam perjalanan panjang sejarah dan kebudayaan masyarakat setempat. Meski telah mengalami pembaruan, pesona arsitektur lamanya tetap terjaga, memancarkan keindahan gaya masjid-masjid seperti yang ada di Turki dan Arab Saudi yang kaya akan relief dan ornamen.
Masjid Raya Tanjung Bingkung merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Kabupaten Solok. Pembangunannya dimulai pada tahun 1928 dan rampung pada 1932. Awalnya, bangunan masjid ini bersifat semi-permanen. Namun, seiring berjalannya waktu dan demi melestarikan fungsinya sebagai pusat kegiatan keagamaan, renovasi besar-besaran menjadi sebuah keharusan.
Mesjid Raya Tanjung Bingkung ini didirikan diatas tanah wakaf, d direnovasi secara keseluruhan mengingat bangunan masjid yang telah mulai lapuk dimakan usia. Keunikan arsitektur Masjid ini tidak lepas dari sentuhan seorang tokoh penting, yaitu Syekh Machdoem. Beliau adalah sosok di balik rancangan arsitektur masjid ini, buah dari pengalamannya menuntut ilmu selama 10 tahun di Mesir dan Arab Saudi. Penguasaan beliau terhadap arsitektur Timur Tengah, khususnya gaya Turki dan Arab, sangat terlihat dalam setiap detail bangunan, mulai dari pahatan relief hingga keindahan ornamennya.
Syekh Machdoem, yang lebih akrab disapa Angku Junguk, merupakan putra dari Angku Kapalo Inyiak Datuak Rajo Alam, yang pada masanya menjabat sebagai Kepala Nagari Tanjung Bingkung. Dedikasi beliau dalam mendirikan dan merancang masjid ini menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pengembangan agama dan kebudayaan di Nagari Tanjung Bingkung.
.jpg)
Masjid Raya Tanjung Bingkung
Syech Machdum
Nagari Tanjung Bingkung memiliki tokoh ulama besar yang patut dibanggakan, yaitu Syech Machdum, atau yang juga dikenal sebagai Pakiah Wahi. Beliau merupakan seorang guru besar, pejuang, dan pendiri Masjid Raya Tanjung Bingkung yang menjadi salah satu cagar budaya penting di Kabupaten Solok.
Syech Machdum menuntut ilmu di Mekkah selama 10 tahun (1905–1915). Selama di sana, ia menjadi imam besar Masjidil Haram, sebuah kehormatan yang jarang didapatkan. Sekembalinya ke tanah air, ilmunya tidak hanya digunakan untuk berdakwah, tetapi juga untuk melawan penjajah. Pada tahun 1924, ia mengeluarkan fatwa yang menentang pajak Belanda, yang membuatnya sempat diusir dari Minangkabau.
Selain itu, Syech Machdum juga berjasa besar dalam dunia pendidikan. Ia mengubah sistem pengajian tradisional menjadi sistem kelas dan mendirikan Madrasah Ahlussunah Wal Jamaah pada tahun 1920. Beliau juga merupakan salah satu pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) di Minangkabau pada tahun 1928, bersama para ulama lainnya. Warisan terbesar Syech Machdum adalah Masjid Raya Tanjung Bingkung yang didirikannya sekitar tahun 1915.
Masjid ini memiliki arsitektur unik gaya Turki yang masih berdiri kokoh hingga kini. Makam beliau juga berada di kompleks masjid ini, menjadikannya tempat ziarah yang penting bagi masyarakat.
Syech Machdum merupakan sosok ulama yang gigih dan juga berdedikasi tinggi. Pengabdiannya dalam menyebarkan agama Islam, melawan penjajah, dan memajukan pendidikan telah mengukir sejarah Nagari Tanjung Bingkung dan menjadi teladan bagi kita semua.
Makam Syech Machdum